Oleh Kompol Tuti Fasilitas Sel Diperjual Belikan

Oleh Kompol Tuti Fasilitas Sel Diperjual Belikan – PN Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan sidang pertama masalah suap dari tahanan Rutan Polda NTB, dengan terdakwa Kompol Tuti Mariati. Sidang beragendakan pembacaan gugatan.

Sidang di pimpin Hakim Ketua Sri Sulastri dengan anggota Fathurrauzi serta Langgeng dengan skedul pembacaan gugatan oleh Jaksa Penuntut Umum, Marollah. Dalam skedul pembacaan dakwaannya, terdakwa Kompol Tuti tampak dibarengi klub penasihat hukumnya, Edy Kurniadi serta Marhaeni.

Penuntut umum dalam dakwaannya, menjelaskan terdakwa Kompol Tuti udah melanggar sumpah serta janjinya jadi aparat penegak hukum tidak untuk terima pungutan dari faksi mana saja.

” Kalau terdakwa udah memaksakan saksi sebagai tahanan Rutan Polda NTB untuk berikan suatu hal padanya, ” kata Marollah sama seperti diberitakan Di antara, Selasa (9/7/2019) .

Salah satunya bukti, jelas Marollah, diperoleh dari info saksi Azhari, seseorang tahanan narkoba yg mendekam di Rutan Polda NTB.

Dalam uraiannya, dijelaskan kalau terdakwa Kompol Tuti mengharap Azhari keluarkan ongkos Rp 300 ribu untuk pemanfaatan telefon pegang saat ada dalam Rutan Polda NTB.

” Dalam kejelasannya, saksi Azhari menuturkan kalau uang Rp 300 ribu diserahkan ke terdakwa, serta disuruh untuk diam-diam serta jangan pernah tampak camera CCTV saat memakai HP (handphone) , ” katanya.

Sehabis dapatkan izin dari terdakwa Kompil Tuti, saksi Azhari dipindahkan ke kamar tahanan di lantai dua. Tapi lantaran kurang senang dengan situasi kamar tahanannya yg baru, saksi Azhari mengharap untuk dikembalikan ke kamar tahanan di lantai satu.

” Untuk tukar kamar tahanan ini, saksi Azhari kembali disuruh terdakwa membayar Rp 500 ribu. Uang itu lantas diberi saksi Azhari di ruangan kerja terdakwa di lantai dua, ” tuturnya.

Hal sama ikut diungkapkan dalam bukti info saksi Firman Ramadani, seseorang tahanan narkoba. Ia disuruh untuk membayar Rp 300 ribu lantaran tertangkap tangan memakai telephone pegang dalam rutan.

” Dengan tawarkan uang Rp 100 ribu yg cuma dipunyai saksi Firman Ramadani, terdakwa lantas menerimanya serta kembalikan HP-nya serta diperbolehkan untuk memakai, ” tuturnya.

Lantas ada kesaksian seseorang tahanan bernama Sarifudin alias Abu. Terhadap terdakwa, Abu menyerahkan uang Rp 750 ribu untuk dapatkan izin memakai matras dalam kamar tahanannya.

” Sebelumnya, matras punya saksi Sarifudin alias Abu, disuruh terdakwa untuk dibayarkan Rp 1 juta, kalaupun tidak dibayarkan, saksi diancam mendekam di sel tikus yg ada di lantai atas, ” tuturnya.

Tapi sehabis ditawar, saksi Sarifudin alias Abu diberi kemudahan untuk membayar Rp 750 ribu dalam kedua kalinya pembayaran, ialah pada kunjungan pertama Rp 500 ribu serta paling akhir Rp 250 ribu.

Lantas yg menarik berkenaan terdapatnya info saksi Dorfin Felix, tahanan narkoba asal Perancis yg pernah kabur dari gedung Rutan Polda NTB.

Tapi dalam perkara pelariannya yg lantas membuka tingkah Kompol Tuti ini, penuntut umum cuma menguraikan bab info uang yg diterima Dorfin di luar negeri lewat penghubung terdakwa Kompol Tuti.

Tidak ada info yg memaparkan bab keterkaitan terdakwa Kompol Tuti dalam modus pelarian Dorfin dari Gedung Rutan Polda NTB.

” Lewat terdakwa, saksi Dorfin terima uang di luar negeri dalam dua periode penerimaan, ” kata Marollah.

Penerimaan pertama, tuturnya, terdakwa Kompol Tuti ambil Dorfin uang sebesar Rp 7, 9 juta. Uang itu lantas dimintakan untuk beli HP android seharga Rp 2 juta serta kartu pertama seharga Rp 100 ribu.

” Juga ada satu unit tv yg di taruh di kamar tahanan saksi Dorfin, ” katanya.

Demikian dengan kontrol kedua-duanya, dengan memakai layanan terdakwa, saksi Dorfin terima uang sebesar Rp 7, 6 juta.

Selanjutnya, masalah punya terdakwa Kompol Tuti diserahkan ke meja persidangan dengan jeratan tiga gugatan, di mulai dari gugatan primair, subsidair, serta lebih subsidair.

Dalam gugatan terdakwa Kompol Tuti dijaring dengan Klausal 12 Huruf e serta atau Klausal 12 Huruf b serta atau Klausal 11 Juncto Klausal 12A Ayat 1 serta Ayat 2 UU RI Nomer 20/2001 perihal pergantian atas UU RI Nomer 31/1999 perihal Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Klausal 65 KUHP.

Mengenai Dorfin saat ini udah dijatuhi hukuman mati lantaran bawa sabu lebih dari 2 kg di luar negeri.